ASMARALOKA - Danarto

Mau tidak mau, pembaca (ini yang saya rasakan) langsung dibikin penasaran oleh Danarto dan mengajukan setidaknya tiga pertanyaan penting: Siapakah mayat laki-laki yang dipikul Malaikat Maut? Mau dibawa ke mana mayat itu? Siapa perempuan yang selalu mengikutinya? Teka teki itu akan segera dijawab lembar demi lembar novel "Asmaraloka." Mari kita intip satu per satu.

Arum, perempuan yang selalu mengikuti ke mana pun Malaikait Maut pergi. Ibarat pemburu, Malaikat Maut merupakan target buruan Arum yang harus dibawa pulang untuk hidangan makan siang. Busro, kekasih Arum. Keduanya baru saja melepas masa lajang. Satu hari setelah pernikahan, terpaksa Arum menerima kenyataan pahit: Busro mati. Malaikat Maut tidak hanya mengambil nyawanya, jasadnya juga. Itu sebabnya Arum mengikuti Malaikat Maut terus. Hanya ingin meminta sesuatu yang menjadi hak Arum: mayat Busro yang asyik berayun di pundak Malaikat Maut.

Kejutan-kejutan memang menjadi menu wajib karya-karya Danarto. Pembaca disuguhkan berbagai menu, memilih satu saja, lalu menyantapnya dengan lahap. Syukur-syukur menu-menu itu pembaca lahap semua. Saya dikejutkan tokoh Saya: mayat yang meriwayatkan kematiannya sendiri dalam cerpen "Jantung Hati," dan tokoh Ayah dalam cerpen "Jejak Tanah," yaitu mayat yang kemudian kembali lagi ke rumahnya setelah sehari baru dikebumikan. Dua cerpen itu bisa dijumpai di kumpulan cerpen "Ikan-Ikan dari Laut Merah".

Dalam novel ini, saya dikejutkan Arum. Pernikahannya yang salah jika dibilang lama, membuahkan hasil. Arum hamil anak Busro. Ajaibnya, kehamilan Arum tidak diketahui siapa pun, termasuk Firdaus: pemuda yang menemani Arum sepanjang perang berlangsung. Gejala atau tanda yang memberi isyarat ke sana tidak ada. Perutnya pun normal. Sepandai-pandainya orang menyembunyikan buah betis, akan ketahuan juga akhirnya. Apalagi kehamilan, anaknya kembar lagi. Tapi Danarto harus dilihat dari kacamata surealis. Ini hanya satu cara dari sekian banyak cara untuk memahaminya. Dan Danarto memang penulis demikian.

Juga hal itu yang membedakan Danarto dengan penulis lainnya. Tokoh-tokoh dalam ceritanya pun juga. Sesuatu yang berat, di tangan Danarto menjadi ringan. Sesuatu yang tidak kasat mata, menjadi kasat mata (perhatikan bagian Malaikat Maut dangan Arum.) Mungkin ini yang disebut Teeuw "Hal yang paling ganjil jadi mungkin".

Sebagian besar tokoh-tokoh Danarto, masing-masing punya keistimewaan. Misalnya, Kiai Ababil Muhammad: beliau keramat. Walau pun ditentang keras Kiai Muhammad Mahfud. Ajarannya "Kita ini dengan sendirinya Tuhan," dianggap sesat. Hampir semua bagian Kiai Ababil, menjadi favorit saya. Kecuali di bagian ketika Kiai Ababil berpidato di depan segerobol burung Nasar pemakan bangkai. Ajaran Kiai Ababil mengingatkan saya pada paham Al-Hallaj dan Syekh Siti Jennar yang hingga sekarang sepertinya masih menjadi polemik di kalangan cendekiawan.

Jika Anda penulis, dan ingin memasukkan mimpi dalam karyanya, kiranya perlu berguru pada Danarto. Dunia mimpi Danarto adalah dunia nyata (benar-benar dialami tokoh-tokohnya dalam sebuah cerita,) kemudian terbawa (terjadi lagi) di alam mimpi. Bukan seolah nyata yang pada akhirnya mimpi belaka (akal-akalan penulis.) Kata Abi saya mimpi itu bagian dari dunia nyata kita: lampau, sekarang dan yang akan datang. Senada dengan Danarto, cara A.S. Laksana mengemas mimpi dalam karyanya. Berbeda dengan Mohctar Lubis, mimpi dalam karyanya hadir serupa cerita berbingkai.

Sepengetahuan pendek saya, Danarto tipikal penulis tidak gampang puas dengan capaian-capaian yang sudah dia raih. Hal itu sangat tampak dalam "Asmaraloka," bagaimana Danato bereksperimen. Setidaknya, tiga unsur gaya (pilihan kata, penataan kata dan kalimat, nuansa makna dan suasana penuturan pengarang) yang dikemukakan Aminuddin tampil. Bahkan "Asmaraloka," dibuka dengan paralelisme. Fabel atau alegori juga menjadi bumbu penyedap novel ini. Bicara fabel tentu kita masih ingat "Animal Farm," nya Orwell (versi Indonesianya: Binatangisme, alih bahasa: Mahbub Djunaidi.) Atau tengoklah semisal semifabel dalam karya-karya Eka Kurniawan.

Walau pun di beberapa bagian, saya merasakan ban alur Danarto bocor. Untungnya, hal itu segera ditembel peristiwa-peristiwa lain: Proses masuknya Firdaus ke dunia lain, yaitu dunia impian seluruh penduduk bumi yang di dalamnya tiada lain selain kedamaian, misalnya. Satu lagi, daripada narasi panjang Danarto, saya lebih suka dialog-dialog pendeknya. Dialog-dialog Danarto, bagi saya tidak hanya berbobot, tapi juga Filosofis.

Terlepas dari dua hal itu, sangat disayangkan jika rak buku teman-teman yang kosong melompong, tidak diisi oleh "Asmaraloka," apalagi sampai tidak membacanya. Saya jamin, Anda akan rugi seumur hidup!

Putat Lor Gondanglegi, 13 Juni 2017
Di Gubuk Kreatif.

Judul : Asmaraloka
Penulis : Danarto
Penerbit : Diva Press
Tahun Terbit : April 2016 (Cetakan Pertama)
Jumlah Halaman : 360 Halaman

Penulis: Jhon Austhin

Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser