RAFILUS - Budi Darma


"Eksklusif." Inilah diksi yang paling mewakili untuk melukiskan novel "Rafiluf." Walau pun barangkali bukan yang paling tepat. Juga ini novel pertama Budi Darma yang saya baca yang berlatar Indonesia. Dua karya sebelumnya; Olenka (Novel) dan Orang-Orang Blomingston (Kumcer) berlatar luar negeri. Meski begitu, karya-karya eyang (jangan ngiri ya saya panggil eyang ke beliau. Situ pun tak tahu penderitaan seorang cucu yang tak pernah diakui kakeknya) tetap saja enak dinikmati.

"Orang gila yang tidak menyadari dirinya gila adalah benar-benar gila. Sebaliknya, begitu seorang gila menyadari bahwa dirinya gila, sembuhlah sudah dia."

Syarat membaca novel ini, satu, pastikan kamu gila terlebih dulu dan menyadari kegilaanmu seperti kutipan itu. Dua, jika kamu tipikal pembaca novel yang mencari kehidupan normal tokoh-tokohnya, tinggalkan jauh-jauh novel ini. Budi Darma memotret kehidupan sebaliknya. (Abaikan sajalah. Ini hanya bualan saya saja kok, agar kamu tak baca novel jelek!) "Mana ada karya Budi Darma yang tidak bagus, Jhon," teriak Umiku dari dapur yang sedang asyik membakar lembar demi lembar novel yang saya beli tadi sore. "Karena," katanya "tak layak terbit." Umiku saja tau lho, Amir Al-Usmani novel bagus itu seperti apa. Ayo dong, move on dari novel-novel jelek itu. Sialnya, bagian Ibuku hanya hanyalanku belaka!

Rafilus tidak menyajikan dialog-dialog manja sepasang kekasih yang sedang kasmaran yang didambakan pembaca yang sedang kasmaran pula atau dialog jenis apa saja. Novel ini dibangun tanpa dialog. Ini pula yang tidak saya temukan dalam Olenka dan Orang-Orang Blomingston. Membaca Rafilus seperti mendengarkan beberapa orang yang sedang bercerita tentang pengalaman waras sekaligus pengalaman sinting masing-masing mereka. Dari sini pula, pembaca bisa menikmati rangkaian konfliknya. Jangan percaya ya. Saya mah bohongan orangnya. Sungguh!

Keunikan berikutnya tentang tokoh. Totoh-tokoh Budi Darma juga selalu menantang akal waras pembaca untuk berfikir lebih keras lagi sampai berpeluh habis-habisan. Kemudian ikut gila juga. Kan yang tahu orang itu gila juga orang gila. Seperti wali, hanya diketahui oleh wali juga. Juga kamu takut lupa saya ingatkan kembali ya, syarat baca novel ini harus gila juga. Kehidupan tokoh dalam novel ini pun juga gila-gila; semuanya. Rafilus adalah kenyataan (baca kehidupan) yang mengerikan sekaligus juga bahan untuk ditertawakan. Perhatikan sumpah dan juga janji Pawestri yang kedengaran sakral dan juga lucu berikut ini. "Cinta saya kepada sampeyan adalah cinta terakhir." "Kecuali kalau benar-benar perlu." Ya pasti dong orang juga butuh bercinta (baca berbagi badan) Tak dapat istri tetangga anak sendiri pun jadi juga. Indonesia zaman now sepertinya musim juga yang kayak begituan itu. Ini dalilnya. "Yang haram, itu yang enak!" Alamak!

Ditangan Budi Darma, erotis tidak menjadi sesuatu yang bisa membangunkan anu yang lagi tidur. Dia cukup bisa dinikmati pembaca jenis apa pun; laki-laki, perempuan, remaja, apalagi dewasa dan orang tua, tentu khusyuk menikmatinya. Jika anunya bangun? Jangan khawatir, ada yang menidurkan kembali kok. Asyik. Tak seperti pembaca lajang, anunya layu mandiri. Nasib deh! Pembaca tak perlu mengernyitkan dahi atau menggoyangkan kedua pundak secara bersamaan untuk mengekspresikan rasa jijik. Saya jamin deh, skip pun tidak akan kamu lalui.

"Gandari dapat melatih saya untuk menjadikan saya tegak dan menjadikan saya laki-laki yang benar-benar laki-laki."

Saya akhiri tulisan picisan ini dengan satire berikut.

"Dia jauh lebih berbahagia mempunyai anak tanpa suami daripada mempunyai suami tanpa mempunyai anak."

Jleb!

6 November 2017
di Prt. Surabaya

Judul : Rafilus
Penulis : Budi Darma
Penerbit : Noura
Tahun Terbit : Mei 2017 (Cetakan pertama)
Jumlah Halaman : 366 Halaman

Penulis: Jhon

Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser